Olahraga baseball sebagai sarana character building
Olahraga tidak semata mata membuka peluang membina kepribadian; tetapi juga menyingkapkan watak seseorang.
Keberhasilan seseorang sebagai pemain atau pelatih amat tergantung kepada pengamatan yang dilakukannya secara rasionil tentang konsep dan prinsip dasar; bukan kepada hal hal lainnya. Inilah yang seharusnya dipegang sebagai falsafah pribadi yang akan memandu dan mengarahkan seseorang di sepanjang perjalanan karir keolahragaannya.
Membina Falsafah Yang Kokoh
Pemain olahraga beregu dan pelatih pelatihnya harus mengembangkan falsafah atlit yang akan memberinya arahan terkait apa saja yang dilakukannya di lapangan baseball. Memilih secara merdeka akan berdampak atas nilai nilai, motivasi, perilaku, komunikasi, disiplin, peraturan, metoda latihan, dan pada akhirnya kepribadiannya. Falsafah harus di tetapkan dengan jelas. Terutama sekali, sebagai pelatih harus meyakini falsafahnya sendiri karena itulah yang akan mencerminkan caranya mengajar, melatih dan memainkan permainan baseball.
Sikap
Sikap seseorang terhadap kompetisi berpusat pada tiga tujuan olahraga – memperoleh kesenangan (fun), untuk belajar, dan untuk memperoleh kemenangan. Guna membina falsafah berolahraga baseball, tentukan ketiga tujuan itu sesuai dengan urutan kepentingannya bagi semua peserta – apakah ia pelatih, pemain, wasit, dan penonton/penggemar. Tak ada jawaban yang benar, jadi bersiaplah untuk jujur kepada diri sendiri. Urutan itu akan menjernihkan tujuan seseorang dan akan memandunya dalam mengambil keputusan dari hari ke hari.
Dalam program ini, dipilih falsafah dengan urutan mendapat kesenangan-belajar-menang. Urutan kata itu memberi kemungkinan terbaik untuk mendapat kemenangan karena ia menempatkan pemain di tempat yang terdepan, mendahului menang. Kebanyakan pemain dan para orangtuanya menetapkan bahwa mendapat kesenangan sebagai tujuan nomor satu. Kesenangan sebagai tujuan bermakna fokus kepada kepuasan, membina citra diri yang positip, dan tekad melakukan upaya yang harus dilakukan. Tim terbaik mendapatkan kesenangan ketika berlatih dan ketika main dan bertanding. Dengan mengerjakannya, terbentuklah ikatan akrab dan erat antara pemain dan pelatih.
Pengamatan
Pengamatan dan analisa yang cermat akan mengarah ke keinginan akan adanya suatu perubahan. Perubahan seakan akan tikungan di sebuah jalan; ia bukanlah tujuan, kecuali ketika di tikungan kita tidak ikut berbelok. Kemajuan tidak pernah terjadi tanpa kehendak akan adanya perubahan, tetapi sebaliknya tak semua perubahan adalah kemajuan. Dengan adanya perubahan, akan diperoleh penghargaan atau penalti. Memakai metoda ini dapat menjadi sulit karena akan dibutuhkan kesabaran dan perencanaan yang baik. Penghargaan yang direncanakan harus mengenali kinerja , upaya, pencapaian langkah demi langkah menuju sasaran, dan pembelajaran dan kinerja watak individu. Pemain diberi penghargaan bila pemain berhak mendapatkannya, bukan semata mata sebagai akibat mendapat sebuah kemenangan.
Kegagalan bukanlah sesuatu harga mati yang fatal, tetapi gagal melakukan perubahan atas diri sendiri boleh jadi berakibat fatal. Ingatlah selalu: Jika sudah tidak lagi ada perubahan, maka selesailah sudah semuanya. Baseball adalah sebuah permainan yang senantiasa berubah. Setiap kali perubahan tidak diikuti dan diambil hikmahnya untuk memperbaiki diri, maka otomatis seseorang akan menjadi lebih buruk.
Pengembangan
Mengembangkan falsafah yang kokoh dengan sendirinya bermakna menuju ke pengembangan pemain yang perkasa, mula mula sebagai individu, lalu disusul sebagai sebuah tim. Menempatkan pengembangan atlit diatas kepentingan memperoleh kemenangan akan memberi hasil pencapaian berjangka panjang. Pengembangan yang dilakukan termasuk membina keterampilan motorik yang diperlukan untuk bermain baseball, mengetahui siasat apa dan kapan digunakan, mengetahui semua aturan dan peng-aturan serta peraturan dasar, senantiasa siap fisik dan mental serta psikis untuk berlatih dan bertanding, bermain secara ‘fair’, dan kesediaan memikul tanggung jawab.
Belajar Memimpin
Satu satunya cara mencapai yang terbaik dari yang dapat dilakukan adalah dengan belajar. Sudah lama ada keyakinan, bahwa lintasan atletik, lapangan basket ataupun diamond baseball atau softball adalah perpanjangan ruang kelas, yaitu tempat dimana kegiatan belajar lebih utama daripada bersiap menang. Atlit harus senantiasa mempelajari olahraga yang digelutinya, tentang pelatih pelatih dan rekan seregunya dan terutama sekali tentang dirinya sendiri.
Memimpin
Belajar bukan saja tentang tehnik – bagaimana caranya memukul bola ke tanah atau cara melakukan double play – tetapi tentang mendapatkan kemampuan memimpin orang lain dalam lingkup falsafah regu. Yang kita cari adalah kepemimpinan yang tulus. Kita acap berkelompok kecil terpisah dari pelatih atau melakukan lari untuk mengkondisikan tubuh selama 12 menit di luar pandangan pelatih. Jadi tersedia banyak peluang untuk membina kepemimpinan. Selama pertandingan, pemain inti (starters) maupun cadangan dapat menemukan peluangnya untuk mengasah kepemimpinan itu. Pemain cadangan, menjadi coach di base satu; membuat catatan catatan; dan mengintip tanda sandi dari pelatih lawan, catcher atau dari infielders. Karena informasi itu penting dan dibutuhkan demi mencapai hasil di pertan-dingan, kita meminta mereka yang membuat catatan agar ia berkomunikasi dengan rekan seregunya. Ketika kita berhasil, pelatih seyogyanya menonjolkan peran peran “pelengkap” atau “tambahan” itu dan memberi penghargaan yang layak.
Fair Play
Belajar bersaing dengan tetap menjaga kehormatan diri adalah sasaran yang sangat mulia. Ia merupakan prioritas utama, tidak kalah dengan pentingnya mendapat kemenangan. Menang saja tidaklah cukup. Kita harus meraih kemenangan itu secara bermutu dan berharkat. Seraya meraih kemenangan, pelatih, pemain, wasit, dan penonton harus senantiasa menjunjung tinggi kehormatan dan martabat permainan. Untuk mencapainya, kita senantiasa memperhatikan kode etik baik yang ditetapkan oleh asosiasi baseball softball indonesia maupun dunia. Kode etik itu memberi tekanan pada pentingnya sportivitas yang tinggi, berwatak luhur, jujur, bermartabat, dan perilaku bermoral yang luhur. Secara spesipik asosiasi seyogyanya mengharuskan perilaku beretika yang antara lain melarang ‘bench jockeying’; berperan aktip menghapus pemakaian narkoba dan minuman alkohol; dan mendorong serta meningkatkan kompetensi para pelatih.
Ujian ujian berkala seyogyanya dilakukan untuk meningkatkan kompetensi pelatih dan efisiensi pembelajaran. Ujian itu mencakup evaluasi perangkat bantu baseball yang dipakai, skills, kebugaran fisik, dan kinerja pertandingan. Ujian awal dan pelatihan dasar dan utama lain menentukan kesiapan partisipasi. Baru hasil hasil pertandingan dipergunakan untuk evaluasi pengajaran dan pelatihan oleh para pemain, dan keadilan tugas tugas berkompetisi. Secara sederhana, mengapa kemenangan dapat dicapai dan mengapa kalah?
Sebelas Faktor Krusial Baseball Prestasi (Championship Baseball)
1. Kembangkan falsafah menang (winning philsophy) yang terpusat pada mendapat kesenangan, pembelajaran, dan mendapat kemenangan. Perlu sekali mengendalikan permainan baseball di lapangan dan pertandingan hidup di luar lapangan. Bertanding menghadapi lawan yang lebih baik akan menantang falsafah yang dikembangkan. Pertandingan yang dimainkan regu melawan atlit yang lebih besar, lebih kuat, lebih terampil akan berjalan seru. Falsafah menang bukanlah hal yang sesekali melainkan sesuatu yang langgeng dan abadi.
2. Organisasi pada segala tahap permainan sangat diperlukan, baik di gelanggang pertandingan maupun di luar lapangan. Pengorganisasian adalah cara untuk menentukan guna mencapai hasil yang didambakan bukan semata mata untuk menerima nasib yang terjadi sesekali dan juga untuk senantiasa memperoleh hasil dari kemahiran hasil latihan yang bersifat lebih langgeng.
3. Disiplin adalah rasa peduli – kehendak melakukan segalanya dengan benar, kehendak untuk belajar, kehendak untuk tahu lebih banyak tentang apa yang dikerjakan, kehendak untuk tampil dan memberi kesan baik atas diri kita. Ia juga adalah tekad siap bersusah payah dan berkorban, terutama sekali ketika dipertanyakan orang lain. Disiplin harus dipraktekkan terus menerus sampai ia bukan lagi terasa sebagai disiplin yang beku, melainkan yang kita sikapi dan lakukan setiap hari.
4. Kumpulkan insan bermutu untuk dijadikan asisten pelatih, officials, pemain dan personil pendukung lainnya. Pemain yang dapat dilatih akan lebih sering memenangi pertandingan daripada atlit berbakat yang punya perilaku bermasalah. Delegasikan tugas tugas kepelatihan sehingga asisten pelatih dapat menyiapkan aspek aspek program yang penting. Kerahkan para pelatih yang mampu berkomuni-kasi dan mengajar. Tetapi tetap harus diingat bahwa untuk beberapa macam pelajaran, pengalaman adalah satu satunya guru. Pelatih terbaik adalah yang punya cukup akal untuk memilih orang terbaik untuk melakukan apa yang ia inginkan, namun dapat menahan diri untuk tidak terlalu banyak turut campur ketika mereka yang diberi tugas sedang mengerjakannya.
5. Gaya main menciptakan sebuah citra. Citra itu dapat berpengaruh atas lawan, wasit, dan penonton, karena menampilkan gaya main, konsistensi dan intensitas para pemain. Menang menjadi kebiasaan. Sayang sekali kalah juga begitu, juga dapat menjadi kebiasaan. Karenanya, selama kita tetap mau bertarung, kita harus main untuk menang.
6. Tetapkan sasaran realistis yang cukup menantang potensi setiap pemain dan seluruh regu. Mencapai sasaran jangka pendek dan panjang memerlukan kemampuan atletis, bakat, upaya, kemauan, dan tekad. Sasaran yang paling sulit adalah yang paling didambakan pencapaian-nya. Pandanglah sasaran tertinggi yang diyakini mungkin dicapai, lalu yakinkan dan bulatkan tekad bahwa sasaran itu akan dapat dicapai. Rasa percaya diri adalah segalanya.
7. Tak mementingkan diri sendiri bermakna melakukan hal hal yang akan memenangkan pertandingan, bukan melulu demi mengumpulkan angka statistik untuk diri sendiri. Tak ada batas pencapaian tujuan jika tak ada rasa perduli siapa yang akan mendapat puji dan sanjungan atas pencapaian itu.
8. Komunikasi dengan pemain dan pelatih lain sangat diperlukan demi saling pengertian yang mendasar. Pelatih juga, seperti halnya pemain, punya kepribadian sendiri sendiri. Pelatih yang besar punya keunggulan dalam memberi pelajaran, melakukan segala persiapan, menangani situasi pertandingan, memberi motivasi, memaksimalkan potensi pemain, dan mendapat kemenangan. Pemahaman atas perilaku manusia amat diperlukan. Jika seorang pemain punya masalah pelajaran sekolah, disiplin, minuman keras, narkotika, atau hubungan dengan sesama rekan, pelatihlah yang harus turun tangan mencari penyelesaiannya. Pelatih tak boleh mentolerir adanya pokrol bambu di sekitar lapangan yang suka sok tahu perihal kepelatihanan. Mereka itu penyakit kanker bagi terjadinya komunikasi.
9. Manfaatkan kesalahan yang dilakukan lawan. Jika sedang menyerang, lawan yang bertahan harus diberi tekanan berat dan lalu mengambil keuntungan dari kesalahan yang dilakukan lawan melalui kinerja hitting dan base running yang agresip dan jeli. Ketika bertahan, harus mampu mengeksekusi ‘plays’ dan senantiasa siap membuat lawan membayar mahal ketika mereka berbuat salah. Regu yang paling sedikit strike out, membuat ‘error’, memberi ‘base on balls’, memukul bola fly, dapat dipastikan akan lebih sering memenangi pertandingan.
10. Berlatih mengalami tekanan sehingga regu siap menghadapi situasi tertekan atau terdesak. Seperti diketahui, akan lebih mudah bermain di bawah tekanan – ketika regu sedang harus menyusul perolehan angka lawan atau harus mempertahankan angka kemenangan yang sudah di tangan – jika latihan dilakukan sama intens dengan suasana pertandingan. Regu juara adalah regu yang terorganisir baik dan sudah berlatih mengalami tekanan dalam latihan mirip pertandingan yang seakan akan sungguhan. Latihan sendiri tidaklah cukup. Latihan harus dilakukan secara pintar dan cekatan sehingga senantiasa mengarah ke perbaikan diri sendiri.
Kepemimpinan Pelatih sangat diperlukan untuk mencapai sukses. Apakah regu bermain agresip dan bertanding untuk mendapat kemenangan? Pelatih-Guru yang baik sangat memahami perilaku manusia, menetapkan sasaran yang menantang namun realistis, berani berinovasi dan mengambil risiko. Kesalahan terbesar yang dapat dibuat seorang pelatih atau pemain ialah jika ia takut membuat kesalahan.
Kamis, November 27, 2008
Senin, November 24, 2008
Mengajarkan Dasar Dasar Fielding – Menguasai Bola Ground
Kalau kita memperhatikan latihan para pemain masih anak-anak (little league), acap kali kita lihat pelatihnya menjalankan latihan seperti berikut: ia membariskan pemain menjadi satu baris, lalu memukul bola ke arah mereka. Pemain yang sudah punya sedikit keterampilan atau punya bakat alam akan melakukan penguasaan bola lebih baik, sementara pemain yang kurang berbakat atau yang masih baru sama sekali akan mendapat kesulitan.
Pelatih mengajarkan kepada mereka, “tempatkan dirimu di depan bola”, atau “rendahkankan glove-mu”, dan “selalu awasi arah bola dan jaga agar selalu didepanmu”. Itulah kira kira yang diajarkannya – tidak lebih dari itu.
Setelah beberapa waktu dan sering latihan, boleh jadi pemain itu akan mendapat kemajuan, namun sayang sekali lebih sering hal semacam itu tidak terjadi begitu gampangnya. Yang acap kali terjadi, justru pemain yang keterampilannya kurang itu digeser ke posisi outfield sebagai upaya pelatih untuk menekan “kerugian” yang dapat mereka timbulkan pada regunya. Akibatnya pemain yang diperlakukan begitu akan mendapat lebih sedikit peluang mendapat pengulangan latihan yang diperlukannya, dan akibat selanjutnya, kesenjangan keterampilan antar pemain malah semakin melebar.
Tak ada niat untuk menyarankan agar pelatih menempatkan fielder paling lemah di posisi shortstop. Yang ingin disarankan adalah agar pelatih memastikan bahwa semua pemain diperlengkapi dengan perangkat yang diperlukannya untuk berprestasi bagus. Cara paling baik melakukannya adalah dengan terus menerus memberi penekanan – dan kemudian secara konsisten mengajarkan dasar dasar fielding.
Segitiga. Sebelum mulai latihan fielding, bariskan para pemain dengan masing masing berjarak antara yang cukup memadai. Mintalah mereka mengambil sikap siap dengan kedua kakinya ditempatkan berjarak selebar bahu. Kemudian dari sikap itu, mintalah mereka meraih ke depan dan ke tanah dengan glove masing masing sejauh yang sama dengan jarak kedua kakinya, seakan akan mereka akan mengambil bola ground imaginer. Minta mereka mempertahankan posisi masing masing seperti itu, lalu tunjukkanlah tiga hal di atas tanah – kedua kakinya, ditambah glove masing masing – yang seharusnya membentuk sudut sudut sebuah segi tiga. Inilah posisi ideal untuk menguasai bola ground; jika kedua kaki terlalu rapat, maka pemain akan kehilangan kecepatan gerak menyamping (lateral), jika glove terlalu dekat kedua kaki ia kehilangan ruang untuk dengan cepat mengkoreksi kesalahan ketika mencoba “menyendok” bola dari tanah.
Gunakan dua tangan. Boleh jadi inilah aspek pelajaran paling penting ketika mengajarkan cara menguasai bola ground, tetapi anehnya, justru yang paling sering diabaikan banyak pelatih. Ketika mengambil sikap siap menguasai bola ground, glove harus diletakkan di atas/dekat dengan tanah, sedangkan tangan yang sebelah lagi harus terbuka di atas glove, dengan bagian belakang telapak kedua tangan cukup berdekatan (analogi yang dapat dipakai bagi pemain belia adalah “membentuk cakupan mulut buaya”).
Ketika bola masuk ke glove, tangan yang sebelah lagi secara otomatis menutup di atas bola dan menggenggamnya. Bukan saja cara itu akan menjaga agar bola tidak terlepas keluar, tetapi juga membuat fielder berada pada posisi siap melempar.
Keuntungan lain yang acapkali dilupakan, ialah bahwa bola yang lepas dari bagian belakang telapak tangan (yang berglove) tidak dapat meloncat keluar dan mengenai wajahnya, jika ia menggunakan tehnik dasar itu; tangan sebelah atasnya akan menahan pantulan bola dan membelokkannya kembali ke tanah sehingga dapat dikuasai kembali.
Awalan rendah, lalu menjadi lebih tinggi/tegak (start low, then come up high). Ajarilah anak anak pemain untuk ketika menguasai bola ground, berawal dengan glove sangat rendah di atas atau di tanah. Jika bola sekonyong konyong naik, glovenya dapat dengan cepat ditarik ke atas; kendatipun pemain salah menafsirkan gerak bola, kemungkinannya masih sangat baik bahwa tangan sebelah atasnya dan/atau tubuhnya akan memblok bola dan menjaga agar bola tidak tembus ke belakangnya. Sebaliknya jika pemain mengambil sikap awal dengan glove di posisi yang tinggi, kemudian mencoba menurunkannya ke arah bola, maka jangan tercengang ketika pemain itu akan dilewati banyak bola ground yang tembus melalui antara kedua kakinya.
Gerak tangan “gemulai”. Bola ground acap datang dengan kecepatan laju yang tinggi sehingga acap kali memantul keluar glove yang sudah ditempatkan dengan sempurna. Menempatkan tangan yang sebelah lagi sebagai “penutup” akan dapat membantu, tetapi kadang kala bola tetap lolos keluar ketika tangan yang lain itu diturunkan untuk menutup.
Cara terbaik mengurangi dampak ini ialah dengan membuat gerak tangan yang “gemulai” (having soft hands). Dengan kata lain, ajarkan kepada pemain untuk tidak “mengunci” siku sehingga berdampak pada tangan penahan yang seakan akan seperti dinding tembok sehingga bola lalu memantul ke arah tak terduga. Pemain harus sedikit “melentur”kan lengannya sehingga tenaga luncuran bola dapat diredam sedikit yang cukup untuk mencegahnya mantul lagi keluar glove. Jika ada pemain yang tampak mengambil posisi siap yang benar, menggunakan kedua tangannya, dan meletakkan glovenya di posisi rendah, namun tetap saja ia gagal menguasai banyak bola ground, maka sangat besar kemungkinan bahwa ia tak berhasil atau masih kurang memahami apa makna tangan yang “gemulai” atau “soft hands”.
Perhatikan gerak kaki (footwork)! Reaksi spontan para fielder belia ketika akan menguasai bola ground yang tidak datang menerpanya secara langsung biasanya ia akan berputar ke samping dan lalu berlari menuju bola. Cara itu amat keliru, kecuali jika ia akan mencoba menguasai bola ground yang jauh dan dalam (deep in the hole), itupun ia juga harus memperkirakan jarak dan lalu memperhitung-kan arah sudut untuk menghampiri bola agar tiba pada waktunya untuk menguasai bola dengan baik.
Jika pemain memutar kepalanya lalu berlari, maka ia akan “kehilangan” (pandangan pada) bola walaupun hanya sejenak. Padahal banyak pelatih yang menjadikan aturan “jangan pernah melepas pandanganmu dari bola” sebagai dogma atau aturan besi – kita tahu aturan itu tak selamanya benar!
Walapun misalnya pemain itu berhasil tiba didepan bola tepat pada waktunya, namun ia masih harus memutar tubuhnya dan menempatkan ulang kedua kakinya dalam upaya mendapatkan sikap “segitiga” yang baik yang disebut dibagian terdahulu tulisan ini.
Pelatih acap kali tergoda untuk mengabaikan ‘fundamentals’ atau dasar dasar jika ia menghadapi pemain berbakat yang mampu bermain baik walaupun dengan cara yang keliru. Padahal dengan demikian pelatih telah mengabaikan tugas utamanya sebagai seorang guru dan pelatih.
Alih alih berputar dan berlari, pemain harus “melangkah geser” ke samping, sehingga pandangannya atas bola tidak hilang. Juga cara ini akan memudahkan pemain membentuk sikap sigatiga yang telah kita sebutkan sebelumnya hanya dengan cara menghentikan geraknya. Latihlah gerak ini dengan membariskan pemain dengan jarak antara sekitar satu meteran, lalu minta mereka bergeser ke kiri, kemudian ke kanan. Ulangi latihan selama beberapa menit sampai pemain cukup terengah-engah.
Konsepnya adalah bahwa mereka harus melangkah lebar kesamping, dan kemudian diikuti oleh kaki yang sebelah lagi sampai kedua tumit hampir bersentuhan. Pada pemain pemain berusia muda, akan ada kecenderungan gerak itu menjadi gerak loncat, namun ketika mereka sudah menjadi lebih terbiasa, maka akan menjadi lebih alamiah dan akan tampak sebagai gerak mulus seperti meluncur.
Memang pelatih tidak perlu melatihgerakan kaki setiap kali ada latihan, namun harus senantiasa ditekankan kepada pemain dan segera perbaiki jika melihat gerak kaki yang masih salah.Tugas utama pelatih baseball adalah mengajari pemain, memberinya kelengkapan keterampilan agar mereka senantiasa mendapat peningkatan dan kemajuan prestasi. Jika ada pemain yang tidak men-dapat peningkatan, pelatih harus mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah semua yang mungkin dilakukannya untuk pemain itu sudah ia lakukan dengan baik untuk membantu dan mendorong keberhasilannya. Jika pelatih alpa mengajarkan tehnik dan dasar dasar yang fundamentil sehingga pemain mendapat pelajaran yang benar untuk bermain baseball dengan baik, maka pelatih telah mengabaikan tugas utamanya dan ia tidak melayani para pemain secara semestinya.
Pelatih mengajarkan kepada mereka, “tempatkan dirimu di depan bola”, atau “rendahkankan glove-mu”, dan “selalu awasi arah bola dan jaga agar selalu didepanmu”. Itulah kira kira yang diajarkannya – tidak lebih dari itu.
Setelah beberapa waktu dan sering latihan, boleh jadi pemain itu akan mendapat kemajuan, namun sayang sekali lebih sering hal semacam itu tidak terjadi begitu gampangnya. Yang acap kali terjadi, justru pemain yang keterampilannya kurang itu digeser ke posisi outfield sebagai upaya pelatih untuk menekan “kerugian” yang dapat mereka timbulkan pada regunya. Akibatnya pemain yang diperlakukan begitu akan mendapat lebih sedikit peluang mendapat pengulangan latihan yang diperlukannya, dan akibat selanjutnya, kesenjangan keterampilan antar pemain malah semakin melebar.
Tak ada niat untuk menyarankan agar pelatih menempatkan fielder paling lemah di posisi shortstop. Yang ingin disarankan adalah agar pelatih memastikan bahwa semua pemain diperlengkapi dengan perangkat yang diperlukannya untuk berprestasi bagus. Cara paling baik melakukannya adalah dengan terus menerus memberi penekanan – dan kemudian secara konsisten mengajarkan dasar dasar fielding.
Segitiga. Sebelum mulai latihan fielding, bariskan para pemain dengan masing masing berjarak antara yang cukup memadai. Mintalah mereka mengambil sikap siap dengan kedua kakinya ditempatkan berjarak selebar bahu. Kemudian dari sikap itu, mintalah mereka meraih ke depan dan ke tanah dengan glove masing masing sejauh yang sama dengan jarak kedua kakinya, seakan akan mereka akan mengambil bola ground imaginer. Minta mereka mempertahankan posisi masing masing seperti itu, lalu tunjukkanlah tiga hal di atas tanah – kedua kakinya, ditambah glove masing masing – yang seharusnya membentuk sudut sudut sebuah segi tiga. Inilah posisi ideal untuk menguasai bola ground; jika kedua kaki terlalu rapat, maka pemain akan kehilangan kecepatan gerak menyamping (lateral), jika glove terlalu dekat kedua kaki ia kehilangan ruang untuk dengan cepat mengkoreksi kesalahan ketika mencoba “menyendok” bola dari tanah.
Gunakan dua tangan. Boleh jadi inilah aspek pelajaran paling penting ketika mengajarkan cara menguasai bola ground, tetapi anehnya, justru yang paling sering diabaikan banyak pelatih. Ketika mengambil sikap siap menguasai bola ground, glove harus diletakkan di atas/dekat dengan tanah, sedangkan tangan yang sebelah lagi harus terbuka di atas glove, dengan bagian belakang telapak kedua tangan cukup berdekatan (analogi yang dapat dipakai bagi pemain belia adalah “membentuk cakupan mulut buaya”).
Ketika bola masuk ke glove, tangan yang sebelah lagi secara otomatis menutup di atas bola dan menggenggamnya. Bukan saja cara itu akan menjaga agar bola tidak terlepas keluar, tetapi juga membuat fielder berada pada posisi siap melempar.
Keuntungan lain yang acapkali dilupakan, ialah bahwa bola yang lepas dari bagian belakang telapak tangan (yang berglove) tidak dapat meloncat keluar dan mengenai wajahnya, jika ia menggunakan tehnik dasar itu; tangan sebelah atasnya akan menahan pantulan bola dan membelokkannya kembali ke tanah sehingga dapat dikuasai kembali.
Awalan rendah, lalu menjadi lebih tinggi/tegak (start low, then come up high). Ajarilah anak anak pemain untuk ketika menguasai bola ground, berawal dengan glove sangat rendah di atas atau di tanah. Jika bola sekonyong konyong naik, glovenya dapat dengan cepat ditarik ke atas; kendatipun pemain salah menafsirkan gerak bola, kemungkinannya masih sangat baik bahwa tangan sebelah atasnya dan/atau tubuhnya akan memblok bola dan menjaga agar bola tidak tembus ke belakangnya. Sebaliknya jika pemain mengambil sikap awal dengan glove di posisi yang tinggi, kemudian mencoba menurunkannya ke arah bola, maka jangan tercengang ketika pemain itu akan dilewati banyak bola ground yang tembus melalui antara kedua kakinya.
Gerak tangan “gemulai”. Bola ground acap datang dengan kecepatan laju yang tinggi sehingga acap kali memantul keluar glove yang sudah ditempatkan dengan sempurna. Menempatkan tangan yang sebelah lagi sebagai “penutup” akan dapat membantu, tetapi kadang kala bola tetap lolos keluar ketika tangan yang lain itu diturunkan untuk menutup.
Cara terbaik mengurangi dampak ini ialah dengan membuat gerak tangan yang “gemulai” (having soft hands). Dengan kata lain, ajarkan kepada pemain untuk tidak “mengunci” siku sehingga berdampak pada tangan penahan yang seakan akan seperti dinding tembok sehingga bola lalu memantul ke arah tak terduga. Pemain harus sedikit “melentur”kan lengannya sehingga tenaga luncuran bola dapat diredam sedikit yang cukup untuk mencegahnya mantul lagi keluar glove. Jika ada pemain yang tampak mengambil posisi siap yang benar, menggunakan kedua tangannya, dan meletakkan glovenya di posisi rendah, namun tetap saja ia gagal menguasai banyak bola ground, maka sangat besar kemungkinan bahwa ia tak berhasil atau masih kurang memahami apa makna tangan yang “gemulai” atau “soft hands”.
Perhatikan gerak kaki (footwork)! Reaksi spontan para fielder belia ketika akan menguasai bola ground yang tidak datang menerpanya secara langsung biasanya ia akan berputar ke samping dan lalu berlari menuju bola. Cara itu amat keliru, kecuali jika ia akan mencoba menguasai bola ground yang jauh dan dalam (deep in the hole), itupun ia juga harus memperkirakan jarak dan lalu memperhitung-kan arah sudut untuk menghampiri bola agar tiba pada waktunya untuk menguasai bola dengan baik.
Jika pemain memutar kepalanya lalu berlari, maka ia akan “kehilangan” (pandangan pada) bola walaupun hanya sejenak. Padahal banyak pelatih yang menjadikan aturan “jangan pernah melepas pandanganmu dari bola” sebagai dogma atau aturan besi – kita tahu aturan itu tak selamanya benar!
Walapun misalnya pemain itu berhasil tiba didepan bola tepat pada waktunya, namun ia masih harus memutar tubuhnya dan menempatkan ulang kedua kakinya dalam upaya mendapatkan sikap “segitiga” yang baik yang disebut dibagian terdahulu tulisan ini.
Pelatih acap kali tergoda untuk mengabaikan ‘fundamentals’ atau dasar dasar jika ia menghadapi pemain berbakat yang mampu bermain baik walaupun dengan cara yang keliru. Padahal dengan demikian pelatih telah mengabaikan tugas utamanya sebagai seorang guru dan pelatih.
Alih alih berputar dan berlari, pemain harus “melangkah geser” ke samping, sehingga pandangannya atas bola tidak hilang. Juga cara ini akan memudahkan pemain membentuk sikap sigatiga yang telah kita sebutkan sebelumnya hanya dengan cara menghentikan geraknya. Latihlah gerak ini dengan membariskan pemain dengan jarak antara sekitar satu meteran, lalu minta mereka bergeser ke kiri, kemudian ke kanan. Ulangi latihan selama beberapa menit sampai pemain cukup terengah-engah.
Konsepnya adalah bahwa mereka harus melangkah lebar kesamping, dan kemudian diikuti oleh kaki yang sebelah lagi sampai kedua tumit hampir bersentuhan. Pada pemain pemain berusia muda, akan ada kecenderungan gerak itu menjadi gerak loncat, namun ketika mereka sudah menjadi lebih terbiasa, maka akan menjadi lebih alamiah dan akan tampak sebagai gerak mulus seperti meluncur.
Memang pelatih tidak perlu melatihgerakan kaki setiap kali ada latihan, namun harus senantiasa ditekankan kepada pemain dan segera perbaiki jika melihat gerak kaki yang masih salah.Tugas utama pelatih baseball adalah mengajari pemain, memberinya kelengkapan keterampilan agar mereka senantiasa mendapat peningkatan dan kemajuan prestasi. Jika ada pemain yang tidak men-dapat peningkatan, pelatih harus mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah semua yang mungkin dilakukannya untuk pemain itu sudah ia lakukan dengan baik untuk membantu dan mendorong keberhasilannya. Jika pelatih alpa mengajarkan tehnik dan dasar dasar yang fundamentil sehingga pemain mendapat pelajaran yang benar untuk bermain baseball dengan baik, maka pelatih telah mengabaikan tugas utamanya dan ia tidak melayani para pemain secara semestinya.
Langganan:
Komentar (Atom)