Kalau kita memperhatikan latihan para pemain masih anak-anak (little league), acap kali kita lihat pelatihnya menjalankan latihan seperti berikut: ia membariskan pemain menjadi satu baris, lalu memukul bola ke arah mereka. Pemain yang sudah punya sedikit keterampilan atau punya bakat alam akan melakukan penguasaan bola lebih baik, sementara pemain yang kurang berbakat atau yang masih baru sama sekali akan mendapat kesulitan.
Pelatih mengajarkan kepada mereka, “tempatkan dirimu di depan bola”, atau “rendahkankan glove-mu”, dan “selalu awasi arah bola dan jaga agar selalu didepanmu”. Itulah kira kira yang diajarkannya – tidak lebih dari itu.
Setelah beberapa waktu dan sering latihan, boleh jadi pemain itu akan mendapat kemajuan, namun sayang sekali lebih sering hal semacam itu tidak terjadi begitu gampangnya. Yang acap kali terjadi, justru pemain yang keterampilannya kurang itu digeser ke posisi outfield sebagai upaya pelatih untuk menekan “kerugian” yang dapat mereka timbulkan pada regunya. Akibatnya pemain yang diperlakukan begitu akan mendapat lebih sedikit peluang mendapat pengulangan latihan yang diperlukannya, dan akibat selanjutnya, kesenjangan keterampilan antar pemain malah semakin melebar.
Tak ada niat untuk menyarankan agar pelatih menempatkan fielder paling lemah di posisi shortstop. Yang ingin disarankan adalah agar pelatih memastikan bahwa semua pemain diperlengkapi dengan perangkat yang diperlukannya untuk berprestasi bagus. Cara paling baik melakukannya adalah dengan terus menerus memberi penekanan – dan kemudian secara konsisten mengajarkan dasar dasar fielding.
Segitiga. Sebelum mulai latihan fielding, bariskan para pemain dengan masing masing berjarak antara yang cukup memadai. Mintalah mereka mengambil sikap siap dengan kedua kakinya ditempatkan berjarak selebar bahu. Kemudian dari sikap itu, mintalah mereka meraih ke depan dan ke tanah dengan glove masing masing sejauh yang sama dengan jarak kedua kakinya, seakan akan mereka akan mengambil bola ground imaginer. Minta mereka mempertahankan posisi masing masing seperti itu, lalu tunjukkanlah tiga hal di atas tanah – kedua kakinya, ditambah glove masing masing – yang seharusnya membentuk sudut sudut sebuah segi tiga. Inilah posisi ideal untuk menguasai bola ground; jika kedua kaki terlalu rapat, maka pemain akan kehilangan kecepatan gerak menyamping (lateral), jika glove terlalu dekat kedua kaki ia kehilangan ruang untuk dengan cepat mengkoreksi kesalahan ketika mencoba “menyendok” bola dari tanah.
Gunakan dua tangan. Boleh jadi inilah aspek pelajaran paling penting ketika mengajarkan cara menguasai bola ground, tetapi anehnya, justru yang paling sering diabaikan banyak pelatih. Ketika mengambil sikap siap menguasai bola ground, glove harus diletakkan di atas/dekat dengan tanah, sedangkan tangan yang sebelah lagi harus terbuka di atas glove, dengan bagian belakang telapak kedua tangan cukup berdekatan (analogi yang dapat dipakai bagi pemain belia adalah “membentuk cakupan mulut buaya”).
Ketika bola masuk ke glove, tangan yang sebelah lagi secara otomatis menutup di atas bola dan menggenggamnya. Bukan saja cara itu akan menjaga agar bola tidak terlepas keluar, tetapi juga membuat fielder berada pada posisi siap melempar.
Keuntungan lain yang acapkali dilupakan, ialah bahwa bola yang lepas dari bagian belakang telapak tangan (yang berglove) tidak dapat meloncat keluar dan mengenai wajahnya, jika ia menggunakan tehnik dasar itu; tangan sebelah atasnya akan menahan pantulan bola dan membelokkannya kembali ke tanah sehingga dapat dikuasai kembali.
Awalan rendah, lalu menjadi lebih tinggi/tegak (start low, then come up high). Ajarilah anak anak pemain untuk ketika menguasai bola ground, berawal dengan glove sangat rendah di atas atau di tanah. Jika bola sekonyong konyong naik, glovenya dapat dengan cepat ditarik ke atas; kendatipun pemain salah menafsirkan gerak bola, kemungkinannya masih sangat baik bahwa tangan sebelah atasnya dan/atau tubuhnya akan memblok bola dan menjaga agar bola tidak tembus ke belakangnya. Sebaliknya jika pemain mengambil sikap awal dengan glove di posisi yang tinggi, kemudian mencoba menurunkannya ke arah bola, maka jangan tercengang ketika pemain itu akan dilewati banyak bola ground yang tembus melalui antara kedua kakinya.
Gerak tangan “gemulai”. Bola ground acap datang dengan kecepatan laju yang tinggi sehingga acap kali memantul keluar glove yang sudah ditempatkan dengan sempurna. Menempatkan tangan yang sebelah lagi sebagai “penutup” akan dapat membantu, tetapi kadang kala bola tetap lolos keluar ketika tangan yang lain itu diturunkan untuk menutup.
Cara terbaik mengurangi dampak ini ialah dengan membuat gerak tangan yang “gemulai” (having soft hands). Dengan kata lain, ajarkan kepada pemain untuk tidak “mengunci” siku sehingga berdampak pada tangan penahan yang seakan akan seperti dinding tembok sehingga bola lalu memantul ke arah tak terduga. Pemain harus sedikit “melentur”kan lengannya sehingga tenaga luncuran bola dapat diredam sedikit yang cukup untuk mencegahnya mantul lagi keluar glove. Jika ada pemain yang tampak mengambil posisi siap yang benar, menggunakan kedua tangannya, dan meletakkan glovenya di posisi rendah, namun tetap saja ia gagal menguasai banyak bola ground, maka sangat besar kemungkinan bahwa ia tak berhasil atau masih kurang memahami apa makna tangan yang “gemulai” atau “soft hands”.
Perhatikan gerak kaki (footwork)! Reaksi spontan para fielder belia ketika akan menguasai bola ground yang tidak datang menerpanya secara langsung biasanya ia akan berputar ke samping dan lalu berlari menuju bola. Cara itu amat keliru, kecuali jika ia akan mencoba menguasai bola ground yang jauh dan dalam (deep in the hole), itupun ia juga harus memperkirakan jarak dan lalu memperhitung-kan arah sudut untuk menghampiri bola agar tiba pada waktunya untuk menguasai bola dengan baik.
Jika pemain memutar kepalanya lalu berlari, maka ia akan “kehilangan” (pandangan pada) bola walaupun hanya sejenak. Padahal banyak pelatih yang menjadikan aturan “jangan pernah melepas pandanganmu dari bola” sebagai dogma atau aturan besi – kita tahu aturan itu tak selamanya benar!
Walapun misalnya pemain itu berhasil tiba didepan bola tepat pada waktunya, namun ia masih harus memutar tubuhnya dan menempatkan ulang kedua kakinya dalam upaya mendapatkan sikap “segitiga” yang baik yang disebut dibagian terdahulu tulisan ini.
Pelatih acap kali tergoda untuk mengabaikan ‘fundamentals’ atau dasar dasar jika ia menghadapi pemain berbakat yang mampu bermain baik walaupun dengan cara yang keliru. Padahal dengan demikian pelatih telah mengabaikan tugas utamanya sebagai seorang guru dan pelatih.
Alih alih berputar dan berlari, pemain harus “melangkah geser” ke samping, sehingga pandangannya atas bola tidak hilang. Juga cara ini akan memudahkan pemain membentuk sikap sigatiga yang telah kita sebutkan sebelumnya hanya dengan cara menghentikan geraknya. Latihlah gerak ini dengan membariskan pemain dengan jarak antara sekitar satu meteran, lalu minta mereka bergeser ke kiri, kemudian ke kanan. Ulangi latihan selama beberapa menit sampai pemain cukup terengah-engah.
Konsepnya adalah bahwa mereka harus melangkah lebar kesamping, dan kemudian diikuti oleh kaki yang sebelah lagi sampai kedua tumit hampir bersentuhan. Pada pemain pemain berusia muda, akan ada kecenderungan gerak itu menjadi gerak loncat, namun ketika mereka sudah menjadi lebih terbiasa, maka akan menjadi lebih alamiah dan akan tampak sebagai gerak mulus seperti meluncur.
Memang pelatih tidak perlu melatihgerakan kaki setiap kali ada latihan, namun harus senantiasa ditekankan kepada pemain dan segera perbaiki jika melihat gerak kaki yang masih salah.Tugas utama pelatih baseball adalah mengajari pemain, memberinya kelengkapan keterampilan agar mereka senantiasa mendapat peningkatan dan kemajuan prestasi. Jika ada pemain yang tidak men-dapat peningkatan, pelatih harus mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah semua yang mungkin dilakukannya untuk pemain itu sudah ia lakukan dengan baik untuk membantu dan mendorong keberhasilannya. Jika pelatih alpa mengajarkan tehnik dan dasar dasar yang fundamentil sehingga pemain mendapat pelajaran yang benar untuk bermain baseball dengan baik, maka pelatih telah mengabaikan tugas utamanya dan ia tidak melayani para pemain secara semestinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar