Kemampuan untuk tetap berkinerja bagus kendatipun mengalami tekanan adalah sebuah ciri yang ingin dimiliki oleh atlit cabang olahraga manapun oleh siapapun. Pemain yang ketika latihan berprestasi sangat baik namun kurang menunjukkan kinerja yang sama ketika bertanding, tidak akan menjadi atlit yang berhasil, malahan, ia akan menjadi atlit yang menderita frustrasi yang amat sangat.
Langkah pertama menghadapi tekanan adalah menyadari dan menerima kenyataan bahwa tekanan sedang menghadang kita. Untuk dapat menanganinya secara efektip, kita harus terlebih dahulu mengakui keberadaannya dan lalu belajar cara menghadapinya secara benar dan efektip.
Tekanan terjadi tidak hanya oleh situasi pertandingan, tetapi juga oleh cara kita sendiri memandangnya dan cara kita menghadapinya. Bukanlah situasi ataupun orang lain yang membuat kita tegang, melainkan kita sendiri. Kita membuat kita sendiri menjadi tegang dengan cara kita memikirkan bagaimana kita akan bertindak, berbuat dan berpikir, bukan disebabkan oleh situasi yang sedang dihadapi saat itu.
Perbedaan antara bermain rutin di tengah tengah musim kejuaraan atau pada pertandingan final di penghujung kejuaraan nasional misalnya, bukan terletak pada pertandingannya, karena pertandingan tetaplah sama satu sama lain, tetapi perbedaan terletak pada sikap mental pemain. Perbedaan bertanding di lapangan belakang rumah atau dekat rumah atau di lapangan untuk kejuaraan Sea Games atau Asian Games, tidaklah terletak pada lapangannya tetapi pada pikiran masing masing pemain.
Karena itu memakai hampiran yang konsisten atau sama pada setiap pertandingan menjadi kunci untuk mendapatkan ketenangan bermain!
Setiap pertandingan harus dipandang sama penting oleh pelatih dan masing masing pemain seakan akan itulah pertandingan satu satunya yang harus dan dapat dimenangkan karena itulah satu satunya pertandingan yang harus dimainkan! Memandang sebuah pertandingan lebih penting dari yang lainnya, akan membuat kita keluar dari pola berkinerja yang konsisten bagus setiap kali, baik ketika melakukan persiapan maupun ketika bertanding yang secara amat vital diperlukan untuk menjadi atlit yang konsisten yang menunjukkan kinerja baik walaupun di bawah tekanan.
Barangkali ucapan ucapan yang paling merusak di lapangan baseball dan softball adalah yang semacam “Ini saatnya!” seperti “OK. Anak anak – inilah saatnya…. Kita main atau tewas (do or die), sekarang atau tidak sama sekali, kita harus mati matian memenangi pertandingan ini atau tidak akan ada lagi hari esok!”. Pelatih atau regu yang mempertaruhkan nasibnya pada salah satu pertandingan saja akan menambah tekanan dan ketegangan pada para pemain ketika memainkan pertandingan itu, dan dapat dipastikan akan lebih menekan kinerja daripada meningkatkannya.
Tujuan yang harus dicapai ketika dibawah tekanan bukanlah untuk bermain super bagus, karena sasaran semacam itu justru sangat tidak masuk akal; tujuan atlit sesungguhnya bermain wajar walaupun mengalami tekanan.
Seorang pelatih piawai acap mengatakan,“Kalau pertandingan menjadi taruhan, maka yang kuinginkan hanyalah agar setiap pemain melakukan tugasnya masing masing.”
Kalau setiap pemain mengerjakan tugasnya dengan baik, regunya akan menunjukkan
kinerja yang bagus, dan akan lebih sering mencapai keberhasilan.
Melewati situasi dibawah tekanan adalah sebuah tindakan yang mengandalkan hitungan persentase. Jika seorang hitter rata rata memukul .333 (dalam tiga kali ‘at bat’ berhasil mendapat ‘base hit’ satu kali), kemudian ia berhasil memukul sekali dalam tiga peluang memukul di bawah tekanan, ia menunjukkan kinerja baik dalam situasi di bawah tekanan. Jadi sasarannya adalah kinerja normal di bawah tekanan, bukanlah kinerja luar biasa atau super performance.
Sudah terlalu sering, seorang atlit menerima reputasi sebagai “pemain saat kritis” karena sekali atau dua kali menunjukkan kinerja yang baik kemudian lalu terlalu banyak mendapat sorotan media, padahal sesungguhnya “pemain hebat saat kritis” adalah atlit yang tetap berkinerja normal kendatipun menghadapi tekanan.
Kinerja normal dibawah tekanan dimungkinkan karena konsentrasi yang kuat. Pada situasi di bawah tekanan yang menegangkan, atlit harus melatih dirinya untuk tetap berkonsentrasi pada tugas yang dihadapinya, dan bukan membiarkan konsentrasinya terpusat pada situasinya, sisa waktu pertandingan,kedudukan angka saat itu,para penonton, atau “apa jadinya kalau aku gagal?”
Atlit yang tidak bisa mengendalikan emosinya ketika menghadapi tekanan tidak mampu mengendalikan konsentrasinya. Atlit yang sibuk berkonsentrasi dengan baik untuk melakukan tugasnya akan terlalu sibuk berkonsentrasi sehingga ia tak lagi memikirkan situasi yang dihadapinya! Negeri ini punya beberapa teladan atlit besar yang masyhur karena kemampuannya menghadapi dan melampaui situasi tegang dibawah tekanan. Rudy Hartono – maestro bulutangkis yang diakui dunia terkenal karena ketenangannya menghadapi ketertinggalan angka dari lawan namun tetap akhirnya menang. Begitu juga atlit bulutangkis nasional sejaman Rudy Hartono – Iie Sumirat dari Bandung juga punya reputasi yang sama.
Langkah pertama menghadapi tekanan adalah menyadari dan menerima kenyataan bahwa tekanan sedang menghadang kita. Untuk dapat menanganinya secara efektip, kita harus terlebih dahulu mengakui keberadaannya dan lalu belajar cara menghadapinya secara benar dan efektip.
Tekanan terjadi tidak hanya oleh situasi pertandingan, tetapi juga oleh cara kita sendiri memandangnya dan cara kita menghadapinya. Bukanlah situasi ataupun orang lain yang membuat kita tegang, melainkan kita sendiri. Kita membuat kita sendiri menjadi tegang dengan cara kita memikirkan bagaimana kita akan bertindak, berbuat dan berpikir, bukan disebabkan oleh situasi yang sedang dihadapi saat itu.
Perbedaan antara bermain rutin di tengah tengah musim kejuaraan atau pada pertandingan final di penghujung kejuaraan nasional misalnya, bukan terletak pada pertandingannya, karena pertandingan tetaplah sama satu sama lain, tetapi perbedaan terletak pada sikap mental pemain. Perbedaan bertanding di lapangan belakang rumah atau dekat rumah atau di lapangan untuk kejuaraan Sea Games atau Asian Games, tidaklah terletak pada lapangannya tetapi pada pikiran masing masing pemain.
Karena itu memakai hampiran yang konsisten atau sama pada setiap pertandingan menjadi kunci untuk mendapatkan ketenangan bermain!
Setiap pertandingan harus dipandang sama penting oleh pelatih dan masing masing pemain seakan akan itulah pertandingan satu satunya yang harus dan dapat dimenangkan karena itulah satu satunya pertandingan yang harus dimainkan! Memandang sebuah pertandingan lebih penting dari yang lainnya, akan membuat kita keluar dari pola berkinerja yang konsisten bagus setiap kali, baik ketika melakukan persiapan maupun ketika bertanding yang secara amat vital diperlukan untuk menjadi atlit yang konsisten yang menunjukkan kinerja baik walaupun di bawah tekanan.
Barangkali ucapan ucapan yang paling merusak di lapangan baseball dan softball adalah yang semacam “Ini saatnya!” seperti “OK. Anak anak – inilah saatnya…. Kita main atau tewas (do or die), sekarang atau tidak sama sekali, kita harus mati matian memenangi pertandingan ini atau tidak akan ada lagi hari esok!”. Pelatih atau regu yang mempertaruhkan nasibnya pada salah satu pertandingan saja akan menambah tekanan dan ketegangan pada para pemain ketika memainkan pertandingan itu, dan dapat dipastikan akan lebih menekan kinerja daripada meningkatkannya.
Tujuan yang harus dicapai ketika dibawah tekanan bukanlah untuk bermain super bagus, karena sasaran semacam itu justru sangat tidak masuk akal; tujuan atlit sesungguhnya bermain wajar walaupun mengalami tekanan.
Seorang pelatih piawai acap mengatakan,“Kalau pertandingan menjadi taruhan, maka yang kuinginkan hanyalah agar setiap pemain melakukan tugasnya masing masing.”
Kalau setiap pemain mengerjakan tugasnya dengan baik, regunya akan menunjukkan
kinerja yang bagus, dan akan lebih sering mencapai keberhasilan.
Melewati situasi dibawah tekanan adalah sebuah tindakan yang mengandalkan hitungan persentase. Jika seorang hitter rata rata memukul .333 (dalam tiga kali ‘at bat’ berhasil mendapat ‘base hit’ satu kali), kemudian ia berhasil memukul sekali dalam tiga peluang memukul di bawah tekanan, ia menunjukkan kinerja baik dalam situasi di bawah tekanan. Jadi sasarannya adalah kinerja normal di bawah tekanan, bukanlah kinerja luar biasa atau super performance.
Sudah terlalu sering, seorang atlit menerima reputasi sebagai “pemain saat kritis” karena sekali atau dua kali menunjukkan kinerja yang baik kemudian lalu terlalu banyak mendapat sorotan media, padahal sesungguhnya “pemain hebat saat kritis” adalah atlit yang tetap berkinerja normal kendatipun menghadapi tekanan.
Kinerja normal dibawah tekanan dimungkinkan karena konsentrasi yang kuat. Pada situasi di bawah tekanan yang menegangkan, atlit harus melatih dirinya untuk tetap berkonsentrasi pada tugas yang dihadapinya, dan bukan membiarkan konsentrasinya terpusat pada situasinya, sisa waktu pertandingan,kedudukan angka saat itu,para penonton, atau “apa jadinya kalau aku gagal?”
Atlit yang tidak bisa mengendalikan emosinya ketika menghadapi tekanan tidak mampu mengendalikan konsentrasinya. Atlit yang sibuk berkonsentrasi dengan baik untuk melakukan tugasnya akan terlalu sibuk berkonsentrasi sehingga ia tak lagi memikirkan situasi yang dihadapinya! Negeri ini punya beberapa teladan atlit besar yang masyhur karena kemampuannya menghadapi dan melampaui situasi tegang dibawah tekanan. Rudy Hartono – maestro bulutangkis yang diakui dunia terkenal karena ketenangannya menghadapi ketertinggalan angka dari lawan namun tetap akhirnya menang. Begitu juga atlit bulutangkis nasional sejaman Rudy Hartono – Iie Sumirat dari Bandung juga punya reputasi yang sama.
Di kalangan putri kita kenal Susi Susanty yang pernah dikomentari komentator Inggris: “Serenity in personification”, karena ketenangannya yang sangat mempesona.
Dengan berkonsentrasi yang baik, atlit dapat mengendalikan situasi, bukan sebaliknya ia di dikontrol situasi, jadi atlit harus fokus kepada kinerja, bukan pada hasilnya!
KONSENTRASI ADALAH SOLUSI YANG TEPAT.
Mengakali situasi di bawah tekanan, untuk mengatasi rasa gugup, sesungguhnya tidak menyelesaikan masalah sampai ke akarnya. Ibarat besi berkarat, akal itu hanya semacam cat yang menutup bagian berkarat, yang tidak memecahkan masalah.
Namun, adakalanya akal dapat membantu atlit mengurangi atau menghilangkan kegugupannya dan “membebaskan pikirannya dari stuasi tegang” saat itu. Pernah ada seorang pitcher pengganti (relief pitcher) yang suka keluar dulu sejenak dari bukit pitcher dan membayangkan pergi memancing ke danau di pegunungan Colorado.
Kedamaian dan ketenangan daerah itu membantunya menenangkan pikiran dan membuatnya santai, dan ia dapat mendengar suara sayap serangga dan kicau burung di atas kepalanya … ia lalu akan menghirup udara dengan tarikan nafas yang dalam untuk lebih membuatnya santai dan tenang, lalu kembali ke bukit pitcher dan melanjutkan main secara normal.
KETENANGAN ADALAH SEBUAH KETERAMPILAN DAN DAPAT DIPELAJARI, sama saja dengan keterampilan atletis lainnya, dapat dipelajari dan dilatih. Pelatih dapat mengajarkannya kepada atlit cara bermain di bawah tekanan, dan atlit dapat berlatih sama dengan cara ia berlatih melempar bola curve atau melakukan tag di base.
Kinerja baik walaupun di bawah tekanan adalah sebuah KEBIASAAN dan dapat dipelajari melalui menempatkan diri pada situasi di bawah tekanan dan membiasakan diri berkonsentrasi pada melakukan tugas dengan benar/baik …. Akan perlu upaya dan latihan, tetapi dapat dipelajari!
Disiplin dan ketenangan ketika berlatih akan menjadi disiplin dan ketenangan di saat saat menentukan pada pertandingan!!
Dengan berkonsentrasi yang baik, atlit dapat mengendalikan situasi, bukan sebaliknya ia di dikontrol situasi, jadi atlit harus fokus kepada kinerja, bukan pada hasilnya!
KONSENTRASI ADALAH SOLUSI YANG TEPAT.
Mengakali situasi di bawah tekanan, untuk mengatasi rasa gugup, sesungguhnya tidak menyelesaikan masalah sampai ke akarnya. Ibarat besi berkarat, akal itu hanya semacam cat yang menutup bagian berkarat, yang tidak memecahkan masalah.
Namun, adakalanya akal dapat membantu atlit mengurangi atau menghilangkan kegugupannya dan “membebaskan pikirannya dari stuasi tegang” saat itu. Pernah ada seorang pitcher pengganti (relief pitcher) yang suka keluar dulu sejenak dari bukit pitcher dan membayangkan pergi memancing ke danau di pegunungan Colorado.
Kedamaian dan ketenangan daerah itu membantunya menenangkan pikiran dan membuatnya santai, dan ia dapat mendengar suara sayap serangga dan kicau burung di atas kepalanya … ia lalu akan menghirup udara dengan tarikan nafas yang dalam untuk lebih membuatnya santai dan tenang, lalu kembali ke bukit pitcher dan melanjutkan main secara normal.
KETENANGAN ADALAH SEBUAH KETERAMPILAN DAN DAPAT DIPELAJARI, sama saja dengan keterampilan atletis lainnya, dapat dipelajari dan dilatih. Pelatih dapat mengajarkannya kepada atlit cara bermain di bawah tekanan, dan atlit dapat berlatih sama dengan cara ia berlatih melempar bola curve atau melakukan tag di base.
Kinerja baik walaupun di bawah tekanan adalah sebuah KEBIASAAN dan dapat dipelajari melalui menempatkan diri pada situasi di bawah tekanan dan membiasakan diri berkonsentrasi pada melakukan tugas dengan benar/baik …. Akan perlu upaya dan latihan, tetapi dapat dipelajari!
Disiplin dan ketenangan ketika berlatih akan menjadi disiplin dan ketenangan di saat saat menentukan pada pertandingan!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar